Ivan Gunawan Angkat Bicara Soal Kontroversi Batik Miss Grand Malaysia

Jakarta – Kontroversi busana batik parang yang membungkus tubuh finalis Miss Grand International 2018 dari Malaysia mengundang perhatian banyak khalayak. Tanpa terkecuali Ivan Gunawan yang justru memandang penampilan sang kontestan itu membantu batik semakin mendunia.

Presenter yang juga desainer itu angkat bicara soal kontroversi tersebut lewat sebuah unggahan di Instastory, Selasa (16/10/2018). “Teman-temanku di Indonesia, harusnya kita bangga kalau kain tradisional kita dipakai oleh negara lain… Jadi budaya kita lebih terkenal,” tulis Ivan.

Baca Juga: Miss Grand Malaysia Ulang Kontroversi 2017, Dulu Kuda Lumping Kini Batik

Ia lalu menyebut ketenaran kain sari dari India sebagai contoh. Menurut Ivan, orang India tak mempermasalahkan kain tradisional mereka dipakai oleh orang dari negara lain. Malah, kain tersebut semakin mendunia. “Jadi hayuk dong, open mind kalian… pandangan musti luas,” tambah Ivan.

Kontroversi bermula ketika Debra Jeanne Poh, kontestan Miss Grand International 2018 dari Malaysia, mengunggah foto di Instagram yang menampilkan dirinya berpose dalam balutan cropped-top bermotif batik parang. Atasan berlengan lonceng itu merupakan koleksi Dona Plant Base, label batik yang berbasis di Malaysia.

Namun, masalah timbul saat senior Debra, Sanjeda John, pemenang Miss Grand Malaysia 2017, melontarkan pernyataan di Instastory-nya dengan mengklaim bahwa batik tersebut berasal dari Malaysia. Tampaknya Sanjeda geram dengan nyinyiran netizen yang menyudutkan Debra karena memakai batik. “Gosh batik Malaysian pun mau clim hak milik.. My God please forgive their stupidity,” tulis dia di Instastory akhir pekan lalu.

Baca Juga: Pose ‘Mirip’ Alay, Ivan Gunawan Bergaya dengan Tas Seharga Mobil

Batik Parang merupakan motif dasar paling tua dan sangat sakral dari Jawa. Dikutip dari ‘Kamus Mode Indonesia’ terbitan Gramedia Pustaka Utama (2011), corak ini merupakan corak larangan yang hanya boleh dikenakan oleh keluarga raja di keraton Solo dan Yogyakarta. Di luar keraton tersebut, tidak diterapkan larangan apapun.

Motif batik parang berupa pengulangan garis diagonal sejajar yang berpotongan dengan garis lain sehingga menimbulkan stilir yang menyerupai pisau (parang) atau keris. Varian motifnya cukup banyak. Di Jawa Tengah misalnya, terdapat Parang Rusak, Parang Barong. Lalu ada Parang Merak di Tasikmalaya dan Parang Dermayon di Indramayu.

Dulu, Parang Barong hanya boleh digunakan oleh raja pada acara-acara tertentu saja. Barong, berarti singa dan mencerminkan sesuatu yang agung serta besar, seperti raja.

Menyusul kontroversi tersebut, Sanjeda akhirnya memberi klarifikasi lewat Instastory baru-baru ini. “Pertama-taman saya mau bilang, saya tidak pernah bilang batik yang dipakai Debra saat itu dari Malaysia. Saya juga tidak menyebut batik hanya milik Malaysia,” jelas Sanjeda mengklarifikasi pernyataannya. Ia juga meminta maaf karena menggunakan kata ‘stupidity’ atau kebodohan untuk mengkritik orang-orang yang ingin mengklaim ‘batik dari Malaysia’.

“Daripada kamu ribut-ribut siang-malam, lebih baik kamu menggunakan energi tersebut untuk mendoakan mereka yang sedang tertimpa musibah,” ujarnya.

Tonton juga ‘Waduh! Miss Malaysia Kenakan Kuda Lumping’:

[Gambas:Video 20detik]
(dng/dng)